Pengetahuan Tingkat I

Posted by Unknown Selasa, 16 Juli 2013 0 komentar

Pengetahuan tingkat I ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling dasar yang ingin diketahui oleh manusia. Ciri utama dari pengetahuan tingkat I ini adalah keinginan dari manusia untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan obyek-obyek yang dapat terindera secara langsung. Oleh karena itu, pengetahuan dalam tingkatan ini dapat disebut juga sebagai pengetahuan langsung.

Walaupun pengetahun ini adalah pengetahuan yang paling dasar bagi manusia, namun untuk memperolehnya manusia tetap memerlukan syarat-syarat tertentu. Untuk dapat memperoleh pengetahuan tingkat I ini, paling tidak harus ada 4 unsur yang harus ada dalam diri manusia. Keempat unsur ini juga dapat dikatakan sebagai syarat dasar bagi manusia untuk dapat disebut sebagai manusia yang sudah mampu berfikir. Atau, syarat bagi manusia itu dapat dikatakan telah memiliki akal yang sempurna. Keempat unsure tersebut adalah (An-Nabhani 1973):

1. Harus ada fakta yang terindera.
2. Harus ada indera-indera.
3. Harus ada otak.
4. Harus ada maklumat (informasi) sebelumnya.

Mengapa 4 unsur ini harus ada dalam diri manusia? Bagaimana jika ada 1 unsur saja yang tidak dipenuhi? Apakah manusia tetap akan bisa memperoleh pengetahuan tingkat I ini? Apakah manusia itu tetap layak untuk dikatakan telah melakukan aktivitas berfikir? Untuk dapat menjawabnya, marilah kita bahas satu per satu dari keempat unsur tersebut.

1. Harus ada fakta yang terindera
Manusia dapat dikatakan telah mampu berfikir untuk memperoleh pengetahuan tingkat I, apabila dia pernah mengindera fakta atau obyek yang akan difikirkannya. Jika obyek tersebut tidak pernah diindera, maka manusia itu tidak dapat dikatakan berfikir dan dia tidak akan dapat memperoleh pengetahuan tingkat I ini. Walaupun dia telah mengerahkan segenap kemampuannya, untuk berfikir sejauh-jauhnya, seluas-luasnya, sebebas-bebasnya dan sedalam-dalamnya. Mengapa?

Untuk menjawabnya memang tidak mudah. Kita ambil saja contoh yang sederhana. Misalnya saja jika ada manusia yang ingin mengetahui atau ingin berfikir tentang obyek tertentu, yaitu “buroq”. Kita semua sudah tentu pernah mendengar istilah buroq ini, yaitu kendaraan yang dinaiki Rasul SAW ketika isra’ dan mi’raj. Dengan demikian kita sudah memiliki ma’lumat atau informasi sebelumnya ini merupakan syarat yang keempat (lihat kembali syarat berfikir di atas).

Walaupun kita semua sudah memiliki ma’lumat tentang buroq, maka silahkan saja kita berfikir sejauh-jauhnya, seluas-luasnya, sebebas-bebasnya dan sedalam-dalamnya tentang buroq ini. Apakah manusia dapat berfikir tentang buroq ini? Ingat, ini baru upaya untuk memperoleh pengetahuan tingkat I. Sekali lagi, walaupun ini hanya untuk memperoleh pengetahuan tingkat I ini, apakah manusia mampu memikirkannya?
Jika manusia ingin tentang tahu apa itu buroq, pasti pengetahuannya akan dibatasi oleh syarat yang pertama ini, yaitu fakta tersebut pernah diindera atau belum. Jika dia belum pernah mengindera obyek buroq ini, maka selamanya dia tidak akan mengetahui hakikat buroq ini. Apabila dia memaksakan diri untuk berfikir tentang buroq ini, maka dia tetap dikatakan “tidak berfikir”!

Bagaimana kita dapat menyimpulkan hal ini? Cobalah kita membuat perbandingan antara manusia jaman Nabi SAW dengan manusia jaman sekarang, ketika mereka disuruh berfikir tentang buroq. Apa hasil pengetahuan yang akan didapatkan dari proses berfikirnya tersebut?

Manusia di jaman Nabi SAW, jika disuruh berfikir tentang buroq tentu akan dibatasi oleh fakta-fakta yang pernah mereka indera di jamannya. Jika maklumat (informasi) yang samapai kepadanya tentang buroq itu adalah kendaraan yang bisa terbang, maka bagaimana poduk berfikirnya?

Manusia di jaman Nabi SAW tentu akan menggambarkan buroq sebagai kendaraan yang berwujud seperti kuda yang memiliki sayap dan berkepala manusia. Mengapa bentuk buroq seperti itu? Sebab, ituah fakta-fakta membatasi pemikiran mereka pada waktu itu.

Fakta-fakta yang mereka ketahui tentang kendaraan yang paling cepat lajunya pada waktu itu adalah kuda. Termasuk, pengetahuan tentang sesuatu yang bisa terbang pada waktu itu adalah semua makhluk yang bersayap, seperti burung. Sedangkan makhluk yang bisa berbicara adalah manusia. Oleh karena itu, buroq adalah: “kuda yang memiliki sayap dan berkepala manusia”.

Bagaimana jika manusia di jaman sekarang diminta untuk berfikir tentang buroq? Apakah bentuknya akan seperti kuda terbang, berkepala manusia? Tentu jawabannya tidak. Burq tentu akan digambarkan seperti jet tempur yang mampu terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi, yang terbangnya mampu melampaui kecepatan suara, bahkan cahaya.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, mana dari kedua produk pemikiran di atas yang dapat dikatakan “benar”? Apakah  bentuk buroq dari manusia jaman Nabi SAW ataukah dari manusia jaman sekarang? Jawabnya sangat jelas. Keduanya bukanlah produk berfikir. Keduanya bukanlah produk pengetahuan tingkat I. Mengapa? Karena tidak memenuhi syarat berfikir yang  pertama, yaitu harus ada fakta yang terindera.

2. Harus Ada Indera
Syarat yang kedua dari berfikir adalah harus memiliki indera. Mengapa untuk berfikir atau dalam rangka untuk memperoleh pengetahuan tingkat I, manusia harus memiliki indera-indera yang lengkap dan normal?
Untuk dapat menjawabnya, kita harus kembali kepada pelajaran tentang panca indera manusia. Sebagaimana kita ketahui bahwa indera manusia itu ada 5, yaitu:

a. Indera penglihatan.
b. Indera pendengaran.
c. Indera peraba.
d. Indera penciuman.
e. Indera pengecap.

Nah, dari kelima indera di atas, yang paling menentukan untuk keperluan proses berfikir adalah indera penglihatan dan indera pendengaran. Dengan kata lain, jika manusia terlahir di dunia ini tidak memiliki penglihatan dan pendengaran (cacat sejak lahir), maka selamanya dia tidak akan pernah bisa berfikir secara sempurna. Dengan demikian, untuk memperoleh pengetahuan tingkat I saja, dia akan mengalami kesulitan. Mengapa?

Untuk menjawabnya, kita dapat melakukan uji coba. Misalnya, ada manusia yang sejak lahir tidak bisa melihat dan mendengar. Walaupun dia punya  indera peraba, kemudian tangannya digunakan untuk meraba dua benda yang permukaannya berbeda, bisakah dia membedakan benda yang halus dan benda yang kasar? Sekali lagi, walaupun hanya sekedar membedakan antara halus dan kasar? Apakah bisa?

Jawabannya adalah: tidak bisa! Mengapa? Walaupun hanya membedakan halus dan kasar dia tidak bisa, karena selama hidupnya dia tidak pernah mendapatkan maklumat tentang “halus” dan “kasar”. Jika dia tidak mendengar kedua maklumat itu, bagaimana dia bisa membedakan antara benda yang halus dan benda yang kasar?

Demikian juga, jika dia cacat salah satunya. Misalnya, dia cacat penglihatannya saja, maka kemampuan berfikirnya-pun akan berkurang juga. Bagi orang yang cacat penglihatan sejak lahir, maka dia tidak akan mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang hakikat rupa, seperti warna hijau, merah, biru, wajah tampan, cantik, jelek, indah, gelap, terang dan seterusnya.

Sedangkan bagi mereka yang cacat pendengarannya sejak lahir, maka dia juga tidak pernah mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang hakikat suara, misalnya suara yang merdu, musik yang indah, gelegar halilintar, gemuruhnya mbak, rayuan gombal dan seterusnya.

Demikianlah, walaupun ini hanya untuk memperoleh pengetahuan tingkat I, persyaratan berfikir yang kedua ini tetap harus dipenuhi, yaitu: harus memiliki indera yang normal.

3. Harus Ada Otak
Syarat yang ketiga adalah harus memiliki otak. Untuk syarat ketiga ini, pembahasannya paling mudah. Sebab, untuk dapat berfikir, manusia tentu harus mempunyai otak. Jika manusia tidak punya otak, tentu dia tidak akan bisa berfikir. Mengapa hal ini harus dibahas?

Pembahasan ini hanya untuk menunjukkan bahwa antara otak dan  akal (berfikir) itu tidak sama. Untuk bisa berfikir, manusia memerlukan otak. Namun, tidak semua manusia yang mempunyai otak itu bisa berfikir. Contohnya adalah orang gila. Orang gila tentu punya otak, namun orang gila tidak bisa berfikir. Sehingga, walaupun hanya untuk memperoleh pengetahuan tingkat I, orang gila akan sulit untuk mencapainya.

Demikian juga untuk binatang. Binatang memiliki otak, bahkan ada yang otaknya lebih besar dari manusia. Namun demikian, semua binatang tidak dapat dikatakan mampu berfikir atau dapat dikatakan juga bahwa binatang itu tidak berakal.

4. Harus Ada Maklumat Sebelumnya
Syarat yang keempat adalah harus ada maklumat sebelumnya. Syarat keempat ini merupakan syarat berfikir yang tidak pernah dimasukkan dalam semua teori berfikir dari kalangan filosof barat. Padahal syarat keempat ini adalah syarat yang penting, sekaligus syarat keempat ini dapat juga digunakan untuk menunjukkan bahwa teori Darwin tentang evolusi manusia itu salah. Bagaimana penjelasan dari syarat keempat ini?

Untuk memahamkan tentang syarat keempat ini memang tidak mudah. Namun, diharapkan dengan contoh yang sederhana ini, manusia dapat dengan mudah memahaminya. Misalnya saja ada manusia yang sejak lahir (sejak bayi) dia hilang di hutan, kemudian dipelihara oleh seekor Orang Utan. Kemudian dia bisa tumbuh sampai berumur 20 tahun sebagai pemuda yang normal. Normal inderanya, normal otaknya, sekaligus dia juga mampu mengindera fakta-fakta yang ada di sekitarnya (tiga syarat berfikir terpenuhi). Pertanyaannya, bisakah dia berfikir? Bisakah dia memperoleh pengetahuan tingkat I?

Jawabnya: tidak bisa! Mengapa? Penjelasannya seperti syarat kedua di atas. Walaupun otak dan inderanya normal, maka dia tidak akan bisa berfikir tentang pohon, tanah, batu, karang, hutan, daun, ranting, dahan, kayu, orang utan, kijang, buaya da sebagainya. Walaupun dia tiap hari melihatnya, walaupun tiap hari dia menginderanya.

Sekali lagi, mengapa? Jawabnya, karena dia tidak pernah memperoleh maklumat awal (informasi sebelumnya) tentang nama benda-benda itu semua. Maka, dia tidak akan bisa memiliki pengetahuan tingkat I, walaupun hanya sekedar nama satu benda saja, dia tetap tidak bisa.

Mungkin kita masih dapat membantahnya. Walaupun dia tidak pernah mendapat maklumat awal tentang nama benda-benda itu, bukankah manusiam memiliki kemampuan untuk member nama sebuah benda yang baru dilihatnya? Contohnya, jika dia menemukan sebuah benda baru, yang bermesin dan bisa bergerak, namun belum ada namanya. Maka, dia bisa member nama benda baru itu dengan nama apa saja, sesuai dengan keinginannya. Misalnya, dia menamakan benda itu “mobil”.

Mudah bukan? Sebab, nama itu hakikatnya hanyalah kesepakatan saja. Seluruh orang Indonesia selanjutnya sepakat member nama benda baru itu mobil, sedangkan orang Malaysia sepekat memberikan nama benda itu dengan nama kereta. Apakah logika pemberian nama  baru ini dapat diterima?

Logika ini dapat diterima untuk manusia yang sudah memiliki maklumat sebelumnya. Bagaimana dengan manusia yang di dalam otaknya tidak ada maklumat sama sekali? Walaupun hanya sekedar memberi nama sebuah benda yang baru ditemui dengan nama “ragadok” misalnya, maka dia tidak akan bisa melakukan itu untuk selamanya. Mengapa?

Sebab, walaupun hanya sekedar memberi nama sebuah benda yang baru dijumpai dengan nama “ragadok”, berapa maklumat awal yang dia butuhkan? Cobalah dihitung. Maklumat minimalnya adalah: “Saya ingin member nama benda ini… ragadok”. Berapa maklumatnya sebelumnya dan berapa maklumat yang baru? Maklumat sebelumnya ada 6, sedangkan maklumat yayng baru hanya ada satu, yaitu: ragadok. Apabila 6 kata-kata itu tidak pernah ada dalam maklumatnya, dapatkah dia melakukan proses berfikir?

Sekali lagi, jawabnya: tidak bisa! Sebab, seumur hidupnya dia tidak pernah mendengar 6 kata tersebut, mulai dari kata: “saya”. Walaupun hanya kata “saya”, dia tidak tahu. “Ingin”, apa “ingin” itu? Dia tidak tahu. “Memberi”, apa “memberi” itu? Dia tidak tahu. “Nama”, apa “nama” itu? Dia tidak tahu. “Benda”, apa “benda” itu? Dia tidak tahu. “Ini”, apa “ini” itu? Dia juga tidak tahu.

Mengapa hanya sekedar kata-kata yang sangat sederhana dia tidak tahu? Karena, dia ridak pernah mendapat maklumat sama sekali sebelumnya. Inilah yang dimaksud dengan syarat keempat, yaitu untuk berpikir manusia harus memiliki maklumat sebelumnya (seperangkat bahasa dasar yang sudah dimiliki sebelumnya). Syarat ini sekaliu bisa menunjukkan bahwa teori evolusi mansuia itu tidak benar. Sebab, jika manusia tidak pernah diberi maklumat awal oleh pihak dari luar manusia, maka selamanya manusia itu tidak akan pernah bisa berfikir.

Oleh karena itu, jika Charles Darwin mengatakan bahwa bagaian dari rantai evolusi manusia itu adalah adanya perubahan dari phitecantrophus erectus (makhluk yang bisa berjalan tegak),  kemudian berevolusi dengan sendirinya menjadi homo sapien (makhluk yang bisa berikir), maka hal itu tentu tidak akan pernah terjadi. Sebab, manusia tidak akan pernah bisa membuat maklumat sendiri.

Silakan dicoba, jika ada yang mau mencba pada anaknya. Sejak lahir anaknya disembunyikan di hutan dan jangan sampai diajak bicara sama sekali, kecuali dengan binatang, sampai berumur 20 tahun. Bisakah dia berfikir? Bisakah dia memilliki pengetahuan tingkat I? Silakan dijawab, jika ada yang berani mencobanya.

Mungkin itu uji coba yang terlalu ekstrim. Uji coba yang paling mudah adalah jika kita mau menatap sebuah tulisan asing, yaitu tulisan yang kita tidak pernah memiliki maklumat sebelumnya. Misalnya membaca sebuah tulisan Cina. Silakan diiendera secara berulang-ulang. Jika perlu sampai berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Walaupun  3 syarat telah terpenuhi, yaitu ada fakta yang di tangkap oleh indera kemudian direfleksikan oleh otak. Apakah proses ini akan menghasilkan sebuah pemahaman?

Jawabnya tentu tidak bisa. Berapa lama-pu kita menginderanya. Mengapa? Sebab, tidak ada yang memberi maklumat awal tentang tlisan Cina kepada kita, maka selamanya kita tidak akan pernah memahami tulisan Cina tersebut.

Itulah 4 syarat berfikir. Lantas, bagaimana keempat syarat berfikir tersebut berproses sehingga menghasilkan sebuah pemikiran, pemahaman atau pengetahuan? Cara kerjanya sangat sederhana. Ketika ada obyek (benda tertentu) yang ditangkap oleh indera (penglihatan) kemudian direfleksikan  ke otak, bertemu dengan memori otak (maklumat sebelumnya yang telah disimpan), sehingga menghasilkan pemahaman tentang  benda tersebut. Itulah yang disebut dengan proses berfikir atau akal atau idrak (kesadaran), untuk memperoleh sebuah pemahaman tentang suatu obyek secara langsung atau pengetahuan tingkat I.

Bagaimana nilai kebenaran yang bisa diperoleh dari pengetahuan tingkat  ini? Hasilnya adalah “pasti benar”. Jika manusia melihat “meja” dan dia faham bahwa itu meja (bisa membedakan dengan kursi dan benda lainnya), maka pengetahuan itu pasti benar. Manusia tidak perlu meragukan kebenaran ini. Jika manusia meragukan kebenaran yang diperoleh dari pengetahuan tingkat I ini, maka selamanya manusia tidak akan dapat memperoleh kebenaran yang pasti. Inilah pemikiran dasar bagi manusia dalam memperoleh kebenaran langsung atau pengetahuan tingkat I.

Sumber:
Ekonomi Islam Mazhab HAMFARA

Baca Selengkapnya ....

Kang Dicky

Posted by Unknown Minggu, 14 Juli 2013 0 komentar
Dicky Zainal Arifin atau lebih akrab dipanggil Kang Dicky, lahir di Bandung pada tanggal 22 Maret 1968. Suami dari Risti Aristia Finia dan ayah dari Pertala Maruta Mandraguna sera Reksa Gumarang Kencana ini adalah Guru Utama juga pendiri Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman Indonesia, yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia.
Kang Dicky ZA
Kang Dicky

Tempat prakteknya dipenuhi ratusan orang setiap harinya untuk konsultasi atau berobat berbagai penyakit. Semua dilayani tanpa dipungut biaya. Kang Dicky telah menghasilkan 21 penemuan teknologi, diantaranya BRAIN ACTIVATOR atau alat pengaktif sel otak, HYDRINNTANA atau Bahan Bakar Air yang berhasil digunakan sebagai pengganti Bahan Bakar Fosil, Rekayasa Genetik Mikroba sebagai pupuk organik cair, racikan obat alami untuk berbagai macam penyakit, dsb. CV Hikmatul Iman adalah perusahaan yang dipimpinnya hingga saat ini.

Pengisi acara di beberapa stasiun televisi seperti Mutiara Subuh di ANTV (2002-2003), Sentuhan Qalbu di Trans TV, Dunia Lain di Trans TV sebagai Narasumber, Masih Dunia Lain di Trans7 sebagai Ahli Metafisika yang kemudian mengundurkan diri di episode 19 karena tidak mau ikut merekayasa, Saung Kuliner di ANTV Jawa Barat sebagai ahli gizi. Membuat dan membimbing acara pendidikan PRODIGY, yang mendapat juara pertama KPID JABAR AWARD kartegori talkshow. Prodigy adalah sekolah yang didirikannya tahun 2007.

Penulis buku Tenaga Dalam dan Tenaga Metafisika Sesuai Syariat Islam, Sehat dengan Olah Nafas, Energi dalam Perspektif Telaah sebagai Upaya Pendekatan menurut Ajaran Islam, Manfaat Tenaga Dalam dan Tenaga Metafisika bagi Kehidupan Kita, Belajar Mudah Khusyu dalam Shalat, Energi Tubuh Manusia. Mahir memainkan alat musik dan mengeluarkan album lagu rohani DOA.

Memiliki Panti Rehabilitasi Narkoba Rumah Terapi Hikmatul Iman (RUTE). Metode detoksifikasinya diadopsi Agensi Anti Dadah Kebangsaan Malaysia (AADK) karena sangat efektif, murah, tanpa obat, dan membuat penagih berhenti mengkonsumsi narkoba dengan cepat.

Membuat TRILOGI ARKHYTIREMA ini karena sangat percaya, bahwa masa lalu tidak se-primitif yang umum sangka. Banyak sekali bukti-bukti menunjukkan bahwa peradaban masa lalu sangat modern.

Ingin mengetahui Kang Dicky lebih dalam, silahkan ke sini.

Baca Selengkapnya ....

APAKAH “BENAR” ITU?

Posted by Unknown Sabtu, 13 Juli 2013 0 komentar


Perdebatan tentang produk pemikiran manusia itu akan masuk dalam kategori ilmiah atau tidak, sangat ditentukan oleh
pengetahuan manusia terhadap definisi “benar” itu sendiri. Mengapa? Jika manusia itu tidak tahu tetang definisi “benar”, Maka manusia akan masuk wilayah perdebatan yang tidak berujung pangkal, terhadap apa yang dimaksud dengan “kebenaran ilmiah”, “metode ilmiah” dan sebagainya.
kebenaran, benar
Apakah "benar" itu?

Termasuk juga, seluruh pembahasan tentang bangunan ilmu pengetahuan yang mampu dilahirkan  oleh manusia, apakah akan dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah atau tidak, alat ukurnya juga hanya satu, yaitu: apa yang dimaksud dengan “benar” itu. Jika manusia “salah” dalam mendefinisikan tentang “benar”, maka manusia tidak akan pernah memperoleh kebenaran selamanya.

Benar  menurut manusia adalah adalah: pernyataan yang sama dengan kenyataan. Degan kata lain, suatu pernyataan yang dibuat manusia itu dapat dikatakan benar, jika pernyataan tersebut sama dengan kenyataan. Contohnya: jika ada orang yang mengatakan bahwa “gunung itu ada”. Pernyataan itu dikatakan “benar” apabila pada kenyataannya gunung itu memang benar-benar ada. Pernyataan itu dapat dikatakan “salah”, apabila gunung itu ternyata tidak ada.

Contoh yang lain adalah, jika ada orang yang mengatakan bahwa “gunung  itu berwarna biru”. Pernyataan itu dikatakan “salah” apabila dalam kenyataannya, setelah didekati dan dibuktikan dalam  penglihatan jarak yang dekat, ternyata gunungnya berwarna coklat. Jika ada orang yang mengatakan bahwa di dalam perut bumi yang diinjaknya itu ada minyaknya. Pernyataan ini dikatakan “benar”, jika di perut bumi di bawah telapak kakinya itu memang benar-benar ada kandungan minyaknya.

Termasuk juga, jika ada orang yang mengatakan bahwa “Tuhan itu ada”. Pernyataan ini dapat dikatakan benar, apabila dalam kenyataannya Tuhan itu memang benar-benar ada. Sebaliknya, pernyataan itu dikatakan salah, apabila dalam kenyataannya Tuhan itu ternyata tidak ada. Kalau ada yang mengatakan bahwa “surga itu ada”, maka pernyataan itu benar jika surge itu benar-benar ada. Jika ada orang yang mengatakan bahwa “di surga itu ada bidadari cantik yang berjumlah 1 juta”. Pernyataan itu salah, jika ternyata jumlah bidadari itu ada satu setengah juta. Demikian seterusnya.

Inilah yang dimaksud dengan definisi “benar” menurut manusia. Setelah manusia tahu tentang definisi benar, lantas apa yang ingin diketahui manusia selanjutnya? Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang ingin diketahui oleh manusia. Mulai dari pengetahuan yang paling sederhana, yang ada di sekitar mereka, sampai hal-hal yang jauh dari penginderaan mereka. Manusia adalah makhluk yang serba ingin tahu.

Berkaitan dengan banyaknya pengtahuan yang ingin diperoleh manusia inilah, maka kita dapat membuat tingkatan-tingkatan pengetahuan yang dapat dicapai oleh manusia. Marilah kita lihat satu per satu tingkatan tersebut, mulai dari tingkatan yang paling rendah.


  1. Pengetahuan Tingkat I
  2. Pengetahuan Tingkat II
  3. Pengetahuan Tingkat III
  4. Pengetahuan Tingkat IV
  5. Pengetahuan Tingkat V
  6. Pengetahuan Tingkat VI
  7. Pengetahuan Tingkat VII



Sumber:
Ekonomi Islam Mazhab HAMFARA

Baca Selengkapnya ....

Ir. H. Dwi Condro Triono, M.Ag, Ph.D

Posted by Unknown Jumat, 12 Juli 2013 0 komentar
Profile Dwi Condro Triono
Ir. H. Dwi Condro Triono, M.Ah, Ph.D

Lahir di Rembang pada tanggal 8 Pebruari 1967 ini sekarang sudah dikarunia tiga orang anak, yaitu: Muhammad Harisuddin Al Amin, Faza Fauziah Adhima, serta Muhammad Wafiyuddin Attaqy, hasil buah cintanya dengan Alyna Tsalisa. Saat ini tinggal di Perumahan Karangjati Indah I, Blok CII No. 38, Bantul, Yogyakarta.

Menamatkan SD, SMP dan SMA di kota yang sama dengan kelahirannya. Pada tahun 1986 melanjutkan studinya di Yogyakarta dengan mengambil Program Studi Mikrobiologi, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas ertanian di Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya pada tahun 1997 mendaftarkan diri ke Magister Studi Islam, Universitas Islam Indonesia dengan mengambil program studi Ekonomi islam. Tahun 1999 berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Cum Laude. Pada tahun 2010 telah berhasil menyelesaikan program Doktor Falsafah (Ph.D) bidang ekonomi di Fakulti Ekonomi dan Perniagaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Pekerjaan sehari-harinya adalah menjadi staff edukatif di IAIN Surakarta pada Program Pasca Sarjana dan juga di Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, Jurusan Ekonomika dan Bisnis Islam, serta menjadi pengajar di Sekolah TInggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara Yogyakarta. Selain itu juga menjadi Direktur Keuangan dan Administrasi di Syafa’at Marcomm Yogyakarta, menjadi anggota Asosiasi Peneliti pada Shariah Economic and Management (SEM) Institute Jakarta, serta menjadi anggota Majelis ‘Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta untuk Bidang Ekonomi Islam.

Pendidikan non formal yang pernah diikuti semasa sekolah di Rembang adalah menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rembang, sedangkan semasa kuliah pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al Muhsin Yogyakarta dari tahun 1990 sampai tahun 1993. Aktivitas yang digeluti semasa SMP dan SMA adalah di OSIS dan dipercaya untuk memegang bidang kepramukaan dan semasa kuliah pernah menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa di Fakultas Pertanian di UGM. Organisasi ekstra yang pernah diikuti masa SMA adalah PII, dan saat kuliah S1 adalah HMI.

Saat ini, buku-buku karangan beliau ialah: Ilmu Retorika untuk Mengguncang Dunia, Ekonomi Islam Mazhab HAMFARA, Proud of You, dan DOSA INVESTASI.


         Untuk mengikuti pemikiran-pemikirannya, silahkan follow @dwi_condro

Baca Selengkapnya ....

BELAJAR BERPIKIR LEVEL 7 (BEYOND THE SCIENTIFIC WAY)

Posted by Unknown Selasa, 09 Juli 2013 0 komentar


Berpikir adalah sebuah aktivitas yang dimulai dari mendapatkan informasi atas sebuah fakta melalui pancaindera, kemudian menghubungkannya dengan informasi yang telah disimpan sebelumnya di dalam otak.  Oleh karena itu, ada tiga hal mendasar yang menentukan kualitasnya: (1) kualitas informasi fakta; (2) informasi yang disimpan sebelumnya; (3) bagaimana menghubungkannya.
.
Kalau saja aktivitas berpikir boleh kita bikin levelingnya, maka level 0 (terrendah), berpikir IRRASIONAL.  Pada orang yang berpikir irrasional, satu atau lebih hal mendasar yang menentukan kualitas berpikirnya, mengalami masalah.  Mungkin informasi fakta yang diterimanya tidak akurat, atau informasi yang disimpan sebelumnya tidak lengkap, atau menghubungkannya terburu-buru.  Jadi, pada level 0 ini, boleh jadi informasi faktanya benar, atau informasi yang disimpan sebelumnya juga benar, tetapi kesimpulan yang dihasilkannya sebenarnya tidak nyambung.  Dulu, di penduduk asli Hawaii ada mitos bahwa "seseorang yang sehat, itu harus punya kutu rambut, karena orang yang sakit, ternyata ditinggalkan kutu rambutnya".  Kedua fakta (sehat/sakit dan kutu rambut) itu benar.  Tetapi menghubungkannya salah, karena yang benar, ketika orang sakit, lalu dia demam, kutu rambut tidak tahan berada di kepalanya.  Tetapi, konklusi ini salah, karena ada informasi yang tidak lengkap, yaitu bahwa banyak orang sehat (di luar Hawaii) yang tidak punya kutu rambut.  Di luar contoh ini, banyak pola pikir irrasional yang bertengger di beberapa ajaran agama & kepercayaan, juga beberapa pada dunia politik, ekonomi, manajemen dsb.
.
Level di atasnya level (1), berpikir ILMIAH.  Berpikir ilmiah mencakup berpikir RASIONAL maupun EXPERIMENTAL.  Tergantung objeknya.  Ada objek yang cukup diolah secara rasional, misalnya mencakup matematika, astronomi, meteorologi, geologi, sejarah, ekonomi dsb, yang sebenarnya nyaris tidak bisa diuji secara pasti, tetapi konklusi pemikiran itu konsisten dengan fakta yang ditemukan serta bisa untuk prediksi.  Misalnya, secara rasional, jauh sebelum era manusia bisa melihat bumi dari ruang angkasa, mereka sudah bisa memastikan bahwa bumi ini bulat, berrotasi pada porosnya, dan mengelilingi matahari.  Tentu saja tidak semua hal bisa dipastikan secara rasional.  Karena itulah, berpikir ilmiah untuk objek-objek tertentu juga memerlukan metode experimental - dalam kondisi laboratorium -  misalnya fisika, kimia, bioteknologi, material science, mesin, teknik sipil dsb.  Ketika sebuah objek baru bisa direkayasa (misalnya komputer) - padahal elektron itu tidak tampak secara langsung oleh pancaindera, maka teori tentang elektron itu menjadi sulit untuk dinafikan.
.
Level di atasnya level (2), berpikir INOVATIF.  Berpikir inovatif adalah berpikir bagaimana sesuatu bisa menjadi manfaat bagi orang banyak, baik itu manfaat ekonomi, manfaat kemanusiaan, manfaat keindahan ataupun yang lain.  Kadang sebuah teknologi tidaklah terlalu canggih secara ilmiah, tetapi sebuah inovasi mampu menjadikannya dipakai oleh ratusan juta manusia.  Contoh yang paling gampang adalah di dunia teknologi informasi.  Steve Jobs sebenarnya banyak menciptakan teknologi selain Apple, Macintosh, iphone, ipod dan ipad.  Tetapi banyak hal yang menyebabkan tidak semua penemuannya itu dikenal orang.  Demikian juga, Facebook bukan situs jejaring sosial pertama atau satu-satunya.  Google juga bukan mesin pencari pertama atau satu-satunya.  Tetapi kenapa Facebook dan Google menjadi sangat terkenal?  Karena inovatif!
.
Level selanjutnya level (3), berpikir INSPIRATIF.  Berpikir inspiratif adalah berpikir bagaimana bisa mencerahkan dan menggerakkan manusia atau masyarakat.  Mereka menjadi seolah-olah tergerak dari dalam, bukan karena diarahkan oleh orang lain atau oleh sistem.  Biasanya yang mampu berpikir inspiratif adalah mereka yang memiliki pengalaman hidup yang luar biasa, misalnya pernah membalikkan situasi yang sangat memprihatinkan menjadi kesuksesan.  Orang yang berpikir inspiratif mampu menggerakkan anak muda yang tidak semangat belajar, pengusaha bangkrut agar bangkit lagi, politisi yang sedang difitnah lawan politiknya, hingga pengemban dakwah yang sedang patah semangat (futur).
.
Berpikir ilmiah, inovatif dan inspiratif sudah bisa dilakukan pada scope sangat local.  Tetapi pada level selanjutnya kita bisa berpikir lebih luas.  Untuk itu kita masuk level (4), berpikir INTEGRATIF - cakupannya bisa se-INDONESIA.  Bak negarawan, kita memikirkan bagaimana mengurus  bangsa Indonesia ini agar bisa menjadi bangsa yang bermartabat, mandiri, maju dan memberi manfaat bagi bangsa-bangsa lain.  Untuk itu apa yang harus kita ubah?  kita perbaiki?  kita sempurnakan?  Untuk dapat berpikir Indonesia, kita mesti mengenal berbagai karakter bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku, tinggal di ribuan pulau, dengan berbagai situasi, sejarah dan aneka ragam perundang-undangan yang membentuk adat-istiadat, habbit dan kultur yang berbeda-beda.  Keragaman itu adalah sebuah fakta, bagaimana kita harus menyerap yang positif dan menjadikannya kekuatan untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa, adalah tantangan dalam berpikir level 4.
.
Mungkin berpikir pada scope Indonesia juga belum cukup, apalagi saat ini dunia saling terhubung, saling terkait.  Jadi kita bisa masuk level (5), berpikir INDEPENDEN - di kancah INTERNASIONAL.  Untuk dapat berpikir independen di kancah internasional maka kita harus memahami keragaman tingkat dunia, termasuk sejarah, budaya, konstelasi politik dan ekonomi internasional berikut intrik-intrik dan konspirasi yang mungkin ada.  Ini adalah berpikir yang tidak mudah, karena tidak semua informasi dapat divalidasi atau diketahui akurasinya.  Salah informasi dalam berpikir internasional dapat menjebak seseorang ke berpikir konspiratif, yang mensimplifikasi masalah apapun (dari bencana lokal sampai kekalahan dalam pilkada) sebagai hasil konspirasi global.  Konspirasi memang bisa dan biasa terjadi di kancah politik atau ekonomi, tetapi tidak semua hal dapat dipastikan.  Beberapa teori konspirasi malah bisa dipastikan keliru kalau itu melanggar hukum-hukum alam yang diketahui di dunia ilmiah.
.

Level selanjutnya adalah level (6), berpikir IDEOLOGIS.  Ketika seseorang berpikir internasional, mungkin dia melihat sebagian bangsa lebih maju dari yang lain dan bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa maju?  Di sinilah dia akan bersentuhan dengan sesuatu yang lain, bahwa kemajuan itu terkait dengan pandangan hidup (falsafah) yang mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan perilaku.  Berikutnya, falsafah itu juga akan berpengaruh pada sistem peraturan yang dibuat, pada undang-undang, dan pada struktur organisasi yang diterapkan atas bangsa tersebut.  Ini adalah sebuah ideologi.  Jadi berpikir ideologis sebenarnya sangat sulit.  Kita memikirkan banyak sekali hal sekaligus.  Di dunia ada beberapa ajaran yang dapat disebut ideologi, sub-ideologi, semi-ideologi atau pseudo-ideologi.  Tetapi secara umum, ajaran kapitalisme dan sosialisme dapat disebut ideologi.  Kapitalisme sebenarnya bertumpu pada pandangan sekulerisme, yang memisahkan agama dari perannya dalam kehidupan publik.  Selanjutnya pandangan ini memberikan kebebasan maximal dalam berbagai hal (liberalisme).  Tentu saja saja kebebasan ini dalam prakteknya harus dibatasi oleh hukum, cuma hukum seperti apa?  Karena asas sekulerisme, maka hukum tadi - minimal secara teori - wajib dibuat bersama-sama saja oleh berbagai kelompok (pluralisme), lahirlah demokrasi.  Dalam implementasinya, demokrasi ternyata sangat tergantung kepada pemilik modal, dan pada akhirnya, hasil dari demokrasi berupa undang-undang dan penguasa, semakin memperkuat posisi pemilik modal, inilah mengapa lebih disebut kapitalisme.
.
Dan level yang tertinggi (7) adalah berpikir ISLAMI.  Berpikir islami sebenarnya menempatkan Islam sebagai ideologi.  Karena syahadat seorang muslim adalah falsafah yang akan berpengaruh pada pandangan hidup, pola pikir, sikap, perilaku, membuat undang-undang, membuat struktur organisasi yang mengatur masyarakat, dsb.  Dan lebih dari itu, dia tidak cuma berpikir dunia di masa sekarang, tetapi juga di masa yang akan datang.  Bahkan dia bisa melihat apa yang tidak terdeteksi oleh pancaindera, yaitu dunia akherat!  Dia tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga tentang rahmat bagi alam semesta.  Dia otomatis berpikir internasional, karena semua bangsa berhak untuk merasakan indahnya Islam.    Berpikir Islami juga pasti berpikir Indonesia, negeri kaya sumber daya tetapi juga kaya potensi bencana tempat tinggal muslim terbanyak di dunia.  Berpikir Islami juga pasti berpikir inspiratif, bagaimana menggerakkan orang yang sudah bersyariah menjadi siap berdakwah; yang baru beribadah agar kaffah bersyariah; bahkan yang belum bersyahadat agar mau meyakini bahwa sesungguhnya Tiada Sesembahan yang wajib disembah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Nabi dan Utusan Allah.  Ini jauh lebih dari sekedar inspirasi karena pengalaman hidup, karena inspirasi dari Islam melampaui apa yang mungkin didapat seluruh manusia sepanjang pengalaman hidup mereka (beyond inspiration).  Berpikir Islami pasti mendorong orang untuk berpikir inovatif, karena Islam berlaku hingga akhir zaman, tetapi tanpa ijtihad yang menghasilkan berbagai inovasi, akan banyak persoalan manusia yang tidak mendapatkan solusi.  Tetapi ijtihad adalah lebih tinggi dari sekedar innovasi (beyond innovation), karena dia sedari awal sudah melibatkan Allah, baik dari motivasinya (ontologi), cara mencapainya (epistemologi), hingga ke aplikasinya (axiologi).    Dan jelas, berpikir Islami adalah berpikir ilmiah.  Karena dasar keimanan (syahadat) sudah seharusnya dicapai dengan cara berpikir yang rasional, dan selanjutnya seperti soal malaikat atau hari kiamat, diturunkan dari dasar keimanan secara rasional.  Islam tidak memberikan tempat untuk cara berpikir irrasional, sebagaimana mereka yang mencampuradukkan agamanya dengan bid'ah, khurafat dan tahayul.  Tetapi berpikir Islami lebih dari sekedar berpikir ilmiah (beyond scientific way), karena informasi ilahiyah yang diturunkan secara rasional memberikan petunjuk tentang berbagai hal yang memang bukan seluruhnya dapat ditemukan secara metode ilmiah, karena menyangkut tujuan hidup manusia, nilai-nilai yang mutlak harus dipertahankan, dan sistem pengaturan hidup manusia baik secara garis besar, maupun dalam beberapa hal cukup rinci.  Juga tentang beberapa kabar ghaib yang tentu di luar domain dunia ilmiah.
.

Berpikir Islami adalah berpikir beyond inspiration, beyond innovation, beyond scientific way !


Sumber: @Fahmi Amhar

Baca Selengkapnya ....

DUNIA IBLIS SOAL ORANG TUA

Posted by Unknown Sabtu, 06 Juli 2013 0 komentar
Orang Tua
Peringatan untuk Orang Tua

Selamat pagi sahabat Ghuroba!

Setelah kemarin saya posting tentang Dunia Iblis untuk Ulama episode 1 berlanjut pada Dunia Iblis untuk Ulama episode 2. Kali ini saya posting kembali mengenai hal yg sama namun dengan tema yang berbeda, yaitu  pekerjaan para setan dan Iblis kepada Orang-Tua. Iya' betul, O-RANG TU-A...



Ingin tahu bagaimana cara setan dan Iblis menggoda kedua orang tua...??? -_-

Okay, sahabat Ghuroba... Mari kita simak bersama pengakuan mereka...

Check this out!

***


Ha.. haa... Akulah Iblis … Akulah sang pembangkang!

Mau tahu caranya aku menggoda para orang tua…?

Aku bisikan pada mereka : “Banyak anak… banyak rejeki… banyak anak banyak rejeki… anak adalah kebanggaanmu… anak adalah kesenanganmu… anak adalah statusmu… anak yang baik akan membuat hidupmu senang… ajari anak agar menyenangkanmu… ajari anak agar mematuhimu…ajari anak agar sesuai keinginanmu… ajari anak agar lebihdari anak yang lain… ajari mereka agar menjadi yang terbaik , terhebat , terpuji…!!!“ 

He..hee..hee..

Sepertinya terlihat bagus yaa…. Padahal dengan membisikan itu terus minimal  1000 kali sehari, itu akan membuat si orang tua akan lupa bahwa harta dan anak adalah ujian. Orang tua juga akan lupa mengajarkan Allah SWT sebagai Tuhan anak mereka. Ajaran bahwa nilai, penghargaa , piala dan berbagai hal yang membanggakan akan menjadi tujuan utama di dalam pengajaran mereka. Anak akan di ajari untuk selalu menurut pada orang tua, apapun kondisinya, kalau tidak menurut akan ditakut – takuti dengan berbagai-macam “ ancaman – ancaman “ yang sekiranya akan membuat si anak menjadi takut dan akhirnya menjadi patuh pada orang tua, anak-anak akan semakin dijauhkan untuk hanya takut pada Allah SWT…. Dan itu sangat membuatku senang… he..he… Karena orang tua akan menjadi “ pembantu-pembantuku “ yang baik agar orang semakin jauh dari mengingat Allah SWT.

Ketika si anak semakin besar, orang tua akan mengajarkan tentang yang namanya masa depan berdasarkan versi – ku, yaitu masa depan adalah “ kesuksesan dunia “, masa depan adalah harus “ menjadi orang “ , masa depan adalah harus menjadi “ kebanggaan orang tua “ , masa depan adalah “ kekayaan dan kehormatan “, untuk itu kuncinya adalah nilai , ijazah dan gelar , sogokan dianggap “modal” untuk “katanya” tujuan yang lebih baik…

ha..ha..kena tuh….

Mereka akan menjadi lupa bahwa tujuan hidup adalah IBADAH . Mereka akan mulai memisahkan antara AGAMA dengan gaya hidup mereka, AGAMA akan hanya menjadi asesoris saja biar terlihat baik dan tidak dikatakan orang lain “ nggak punya agama “. Mereka akan menjadi lupa bahwa, bisa saja mereka akan mati besok atau lusa dan tidak jelas apa yang mereka bawa ke hadapan Allah SWT .

Dengan bisikan – ku pula , mereka akan lupa bahwa yang pertama kali ditanya di akhirat adalah “Siapa Tuhan-mu“, dan biasanya usaha-ku akan berhasil dengan baik ketika Tuhan mereka sudah berubah jadi  Nilai , Ijazah , gelar dan kehormatan , dan lain sebagainya selain Allah SWT , sedangkan mereka tidak menyadari , karena mereka tidak mengetahui apa definisi Tuhan itu sendiri.

Hidup mereka akan penuh pembenaran dan penyangkalan .

Mereka akan berusaha dengan berbagai macam cara agar apa yang mereka lakukan salah bisa terlihat seperti benar , kalau perlu putar balikan hukum atau apapun yang menghalangi tujuan mereka. Penyangkalan yang mereka lakukan diikuti dengan upaya putar balik fakta, kalau perlu dengan merekayasa bukti…

ha..ha…inilah pembantuku yang hebaaattt!!! \\^0^//

Dan lihatlah…. Dimana-mana usaha-ku berhasil dengan baik dan gemilang.

Lihatlah… Lihatlah… Perhatikanlah…. Pembantu-pembantu-ku yang sudah menjadi orang tua yang baik “Menurut-ku”, mereka akan mendoktrin anak-anaknya seperti yang ku mau. Anak akan disuruh belajar “ngaji“ agar hapalan – nya yang hebat, dan setelah anak menjadi hapal banyak ayat, maka akan dibangga-banggakan-nya, tanpa di didik tentang pengertian dan aplikasi keseharian dari ayat yang mereka baca. Orang tua hanya akan menjadi penyuruh dan pendoktrin yang baik, tanpa mampu memberi contoh. Ego mereka akan menjadi luar biasa besar, hanya ingin di dengar tanpa mau mendengar.

Aku beri mereka senjata, berupa mantera yang cukup ampuh yaitu “anak durhaka“ , “anak tidak tahu diri“ , “anak tidak berbakti“ , “anak tukang menyakiti hati orang tua “ , he..he… 

Sebetulnya masih banyak sih… Tergantung daerah dan budaya , kalau perlu , kubisikan agar mereka “menghajar anak-anak mereka”…JDAAAKKK…DUESSS…PLAKKK…BUKK…!!! Sampai mereka minta-minta ampun , dan anak-anak pun akan menurunkan gaya itu pada anak-anak mereka nanti….

ha.. haa… Terbukti … Aku sukses kan…?! \\^0^//

Ini baru sebagian kecil lhoo…. Sebetulnya masih banyak cara-cara ku di dalam menggoda Orang tua , dan cara itu sangat fleksibel , tergantung dari tingkat kecerdasan itu yang namanya orang tua….

***

Peringatan dari Kang Dicky


Baca Selengkapnya ....

DUNIA IBLIS UNTUK ULAMA (Episode 2)

Posted by Unknown 0 komentar


Tak jenuh-jenuhnya sang Iblis menggoda para umat manusia. yah karna itulah tujuan hidupnya. Postingan ini merupakan lanjutan dari Dunia Iblis untuk Ulama.
Anda penasaran... silahkan baca...
***
Ingatlah Aku, Iblis!
Ingatlah Aku, Iblis!
Masih ingat aku….?
Akulah Iblis…. Akulah Sang Pembangkang….!

Kulanjutkan soal godaan pada para Ulama

Sering Kubisikan : “ Hai kau yang pintar…. Surga itu enak…. Surga itu enaaakkkkk…. ayo perkuat ibadah mu biar kamu masuk surga…. Perdalam shalatmu biar pahalamu banyak terus kamu masuk surga, perbanyaklah di mesjid habiskan waktumu di mesjid, jangan lakukan apapun, shalatlah, zikirlah, puasa lah agar kamu jadi ahli surga…
ahli surga… ahli surgaaaaaa…..!!!! “

He..he..he… terlihat seperti bagus yaa…?!

Padahal dengan cara itu aku bisa belokan seseorang untuk beribadah "karena surga" Bukan "karena Allah lagi", mereka akan lupa tentang "Lillahita’ala", karena dasar aqidah adalah "Karena Allah" , bukan karena ciptaan Allah, mereka akan lupakan dasar ibadah

Mereka akan menjadi tidak ikhlas dalam beribadah , akan terjadi proses "untung dan rugi" pada Allah SWT , dan aku akan senang sekali, itu adalah sifatku….  he..he..he…..

Mereka akan terus diam di mesjid dan melupakan hal lain selain ibadah ritual maka aku akan senang sekali karena mereka akan menjadi manusia manusia yang tiada aksi malas bergerak dan berusaha membantu masyarakat dengan action dan akhirnya akan membentuk mereka hanya pandai bicara tanpa pandai berbuat dan memberikan  solusi yang baik dengan contoh…
he.. he.. hee…

Meraka hanya akan menjadi tukang omong pandai alias No Action Talk Only…. Bisanya nyuruh nyuruh sabar tanpa memberikan terobosan terobosan , kalau kepepet mereka akan bilang “ Saya Bukan Ahlinya “ , tapi ingin selalu di dengar dan ingin selalu exis tanpa ada usaha untuk menambah "kemampuan dan keahlian" …. he... he... he…. itu gue banget…!!!

Lalu dengan sifat yang sudah terbentuk itu,  mereka akan ajak-ajak umat juga biar seperti mereka
Sampai berani mengatakan bahwa aliran lain itu sesat dan salah, aliranku lah yang benar

Aku bisikan juga : “ Dengan ibadah kamu sekarang, kamu sepertinya sudah ada jaminan masuk surga, rubahlah penampilanmu agar beda dengan orang lain, pakailah pakaian yang menunjukan kamu itu lebih taat, lebih menguasai agama daripada mereka-mereka itu, kamu nggak usah mikir apa-apa lagi… nggak usah mikir apa-apa…. nggak usah mikir apa-apa…. terjemahan tersurat mu sudah bagus sekali… ayo katakan apabila ada yang menterjemahkan ayat tidak sesuai dengan terjemahan mu adalah orang  yang sesat dan bodoh , katakanlah pada mereka bahwa al-Qur’an jangan diilmiah-ilmiahkan, al Qur’an imani saja tanpa bertanya apapun , nurut saja nggak usah mikir apapun ….”

Tahu nggak kalau aku sering bisiki itu pada mereka sehari 100 kali…..?!

Mereka akan menjadi orang yang malas berpikir , dan malas berpikir lebih jauh tentang ayat-ayat Allah SWT yang penuh dengan makna tersirat daripada makna tersurat nya , pikiran mereka akan tertutup untuk berpikir lebih jauh , dan akan mengajak umatnya untuk seperti mereka , dan akibatnya umat akan menjadi ….mundur …mundur …dan makin mundur….asyikkk kan….?!

Nggak percaya….?! ….lihat saja buktinya sekarang , aku sukses kan….!!! Umat menjadi malas-malas

Apalagi disuruh mikir… waaahhh… sepertinya itu suatu hal yang amat sangat berat sekali….
Umat hanya bisa menjadi plagiator-plagiator alias tukang tiru , karena para ilmuwan alias Ulama nya mengajarkan pola yang keliru , dan itu akan terus berkembang … waahhh… senang sekali aku…..!!!

Mereka akan menggunakan atribut dan pakaian yang beda , karena ingin terlihat mereka Ulama
Mereka akan bersikap berwibawa dan agung agar orang menghargai juga segan
Mereka akan mulai melaksanakan sunah-sunah yang gampang kecuali berpikir
Mereka akan selalu ingin didengar daripada mendengar
Mereka akan selalu ingin dihargai daripada menghargai

Huaa…ha…ha…ha…. Lihatlah ….betapa banyaknya kesuksesan ku…. Nggak percaya…?! Lihat saja sendiri di masyarakat, aku yang menang kan….?!

Aku tidak takut gagal…. Aku tidak takut gagal… Aku tidak takut gagall……!!!!

Karena manusia selalu mengutamakan  nafsu-nafsu nya, bahkan berani mengatur Allah SWT. Sok tahu pada Allah SWT , merasa lebih mengetahui dirinya dari pada Allah SWT….

Setelah pada tahap itu , aku tidak perlu goda mereka lagi…..
Mereka sudah lulus menjadi anak buahku tanpa mereka sadari
Dan mereka akan mengembangkan sendiri kemampuan nya tanpa kubisiki lagi
Karena manusia lebih sempurna dari pada Aku , jadi …he... he… bisa lebih jahat dari-ku

Nanti cerita yang lain yeeee……

       Peringatan dari Kang Dicky

NB:
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai profile Kang Dicky, silahkan ke sini.

Baca Selengkapnya ....
trikmudahseo.blogspot.com support www.evafashionstore.com - Original design by Bamz | Copyright of aVathuroba.